Cerita Cokelat
Dalam diam aku berdiri tegak. Lorong ini adalah satu lorong dari puluhan lorong yang ada di ruang besar ini. Entah berapa lama aku berdiri disini. Berapa hari, berapa minggu, atau mungkin berapa bulan, yang pasti sudah cukup lama. Aku mencoba untuk membiarkan diriku tertutup rapat, jangan sampai ada satu lubang pun yang bisa merusakku. Ketika ada yang membawaku pulang, aku ingin dalam kondisi terbaik.
Banyak yang menjamahku, melihat seluruh tubuhku. Aku berharap seseorang membawaku pulang. Puluhan mata sudah yang melihatku, tapi tidak satupun yang mengajakku pulang bersama mereka. Tapi, tunggu! Ada lelaki muda mendekat kearahku, menatapku penuh hasrat. Dia mendekat, semakin dekat, dan kini dia berdiri tepat di depanku. Bisa kulihat jari-jarinya bergerak, meregang dan mengepal. Dia ragu ingin menjamahku. Sesekali dia menggigit jemarinya. Ada apa sih? Tunggu apa lagi? Ayo, jamah aku! Bawa aku pulang! Aku sudah bosan hanya berdiri dan menunggu. Bisa kulihat dahinya berkerut, dia memikirkan sesuatu, sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Tangannya mulai bergerak. Sejengkal lagi, dia hampir menyentuhku. Ah, dia menarik tangannya lagi! Tapi dengan cepat tiba-tiba dia menarikku. Membawaku keluar dari lorong, bahkan keluar dari ruangan besar yang membosankan ini. Dia tidak berkata apa-apa, berjalan cepat dalam diam.
Dia membawaku, dalam gelap. Aku tidak tahu kemana. Tiba-tiba dia mengangkatku. Bisa kurasakan pegangannya yang lembut. Dia menaruhku dengan hati-hati di tempat tidurnya, seakan takut tangannya dapat merusak tubuhku. Aku hanya bisa diam, membiarkannya berbuat apapun padaku. Dia memberiku pita kecil, menyandingkan aku dengan mawar merah.
Lagi, dia membawaku dengan lembut. Keluar dari kamarnya. Aku dalam genggamannya. Bisa kudengar tangannya yang mengetuk pintu kayu yang ada dihadapannya. Pintu terbuka dan bisa kulihat wajah manis seorang perempuan menyambut lelaki ini dengan senyuman yang pantang untuk ditolak.
“Tumben, malam-malam kesini. Kenapa?”, bisa kudengar suara dari bibirnya yang mungil,
“Aku cari kamu”, jawab lelaki ini dengan suara bergetar, bahkan tangannya yang menggenggamku pun ikut bergetar,
“Iya, kenapa?”,
“Dari dulu, aku hanya bisa berharap cinta datang dengan sendirinya. Tidak berani berkata dengan lantang padamu. Sekarang aku datang apa adanya, berkata jujur, menatap langsung kearah matamu, mata yang terus membiusku. Matamu yang terus mengunci bibirku”, tangan lelaki ini bergetar dengan hebatnya. Tangannya terangkat, terus bergetar. Dan kali ini jarakku cukup dekat dengan perempuan ini, perempuan yang menggetarkan lelaki yang menggengamku dengan tangannya yang basah dengan keringat, menggetarkan hati dan tubuhnya.
“Semanis coklat dan seindah bunga ini, itulah kamu. Aku suka kamu”, lelaki ini menyorongkan tubuhku dan mawar merah yang sedari tadi menemaniku, kepada perempuan yang berdiri dihadapannya, menatapnya. Tangan perempuan ini menyambutku, mengambilku dan menerimaku.